Selasa, 11 Agustus 2015

Sedih adalah Proses

"Yes I know, I will not survive.. Tanpa dirimu di sisiku I won’t stay alive, And I don’t have a lot to leave, a lot to give.. I will not survive, I will not survive..” Project Pop - I Will Not Survive.

Jadi, siapa yang pernah putus sama pacarnya dan merasa hoppelles banget sampai - sampai merasa ga bisa move on selamanya? /balik kanan kiri/ ternyata cuma gue.Well, yeah hampir atau setahun yang lalu aku "ditinggal". Dan itu sakit... Sakitnya kayak lo punya sinusitis yang udah infeksi di tulang pipi dan di tulang jidat. Sakitnya kayak lo punya radang tenggorokan udah infeksi, Sakitnya kaya punya makanan enak tapi jatuh.. Sakit sih tapi "sayang banget"untuk ditinggalin.

Gue ngerasa dunia ini bakal hancur, gue merasa Piccolo bakal datang dari planet Namek dan ikut dirikan partai di Indonesia, gue merasa bakal semua selai blueberry di atas chesee cake gue bakal nempel di kotaknya, itu serem. Gue mengekspresikan segala hal dengan ekspresif, seakan - akan dunia perlu tahu bahwa gue lagi sakit. Gue nulis status galau di twitter. Gue nangis di kamar berhari - hari. Nonton drama galau. Baca novel galau. Pergi keliling kota Makassar sendirian naik kendaraan umum dan berhenti dimana saja yang gue mau. Tapi setelah berbulan-bulan, gue ngerasa ini semua sia - sia dan nggak terlalu penting lagi. Ada titik balik yang membuat gue sadar,

Titik balik itu adalah ketika suatu hari setelah ber-overdramatic ria gue memutuskan untuk membaca jurnal di sebuah cafe yang menjalankan fasilitas free wifii. Setelah bosan baca jurnal gue memutuskan untuk buka Facebook. Tiba-tiba saja gue punya hasrat untuk stalker beranda mantan. Ya udah, setelah gue lihat banyak fotonya yang kelihatan lagi senang - senang sama teman - temannya, gue kaya kesambar petir, disitu gue sadar kalau selama ini gue sedih cuma sendiri. Dia senang - senang sama temannya. Keterlaluan. Sementara gue gaul bersama tisu merasa orang paling depresi di dunia, sedang dia disana terlihat ceria. Tanpa gue.

Sejak itu gue gak nangis lagi, atau berjanji bakal gak nangis lagi. Gue pikir ini konyol banget. Gue akhirnya survei apa yang bisa buat gue bahagia. Akhirnya gue dapat beberapa kegiatan yang bisa buat bahagia kayak jalan-jalan sendirian keliling kota, muncul di kostan teman dengan sekotak martabak, bawa balon dan bunga saat orang yang gue kenal sidang skripsi. Daaaan ternyata diluar ekspetasi gue, gue bahagianya tahan berhari-hari. Gue bisa pura-pura lupa kalo gue lagi sedih, sampai pada akhirnya gue lupa kalo gue lagi pura-pura.

Pada saat nulis blog ini, gue sempet mikir saat kejadian "kelam" itu. Imajinasi gue kayak lagi muterin film dan gue cuma bisa ketawa inget betapa kekonyolan gue pernah mencapai batas maksimal. Tapi, kalo ditanya menyesal atau nggak.. Hmm gue bakal jawab, NGGAK! Gue pernah denger "Mungkin lo gak bisa menghargai seberapa bahagia lo sekarang tanpa mengalami kesedihan yang amat dashyat". Dan bener, mungkin gue gak bakal happy dengan kebahagiaan yang kecil tanpa gue lalui sedih yang larut. Terimakasih semesta. 

Dan sekarang tugasku adalah.... Happiness seems made to be shared....

Jadi, kalian jangan lupa bahagia.. Dan jika kesedihan datang, hadapilah!

-Kost Yang Selalu Berantakan-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar