Selasa, 15 Oktober 2013

GEOLOGI LEMBAR MAJENE DAN PALOPO BAGIAN BARAT

Yang mau lapangan dan yang mau kerja TP lapangannya silahkan di copy... mudah-mudahan berguna yah.. :D


Geomorfologi Regional

Ditinjau dari geomorfologi regional daerah penelitian terletak pada Busur Sulawesi Barat bagian utara yang dicirikan oleh aktivitas volkanik dan intrusi magma bersifat kalk-alkalin berkomposisikan asam hingga intermedit yang terdiri dari pegunungan, perbukitan dan dataran rendah. Daerah pegunungan menempati bagian Utara, Barat dan Selatan  sedangkan bagian tengah merupakan perbukitan bergelombang  dan bagian timur merupakan dataran rendah.

            Berdasarkan tektonik lempeng  (Sukamto, 1975) Sulawesi dapat dibagi menjadi tiga mandala geologi yaitu Mandala Sulawesi Barat, Mandala Sulawesi Timur dan Banggai-Sula. Masing-masing mandala geologi ini dicirikan oleh variasi batuan, struktur dan sejarah geologi yang berbeda satu sama lain. Daerah penelitian merupakan bagian dari Mandala Sulawesi Barat yang berbatasan dengan Mandala Sulawesi Timur, dimana keduanya dipisahkan oleh sesar Palu-Koro.

v  Stratigrafi Regional

Berdasarkan peta geologi Lembar Majene dan Palopo Bagian Barat (Djuri dan Sudjatmiko, 1974) batuan tertua adalah  Formasi Latimojong (Tkl)  yang berumur Kapur dengan ketebalan kurang lebih 1000 meter. Formasi ini telah termetamorfisme terdiri dari filit, serpih, rijang, marmer, kwarsit dan beberapa intrusi bersifat menengah hingga basa, baik berupa stock maupun berupa retas-retas. Diatasnya diendapkan secara tidak selaras Formasi Toraja yang terdiri dari Tersier Eosen Toraja (Tet) dan Tersier Eosen Toraja Limestone (Tetl) yang berumur Eosen  terdiri dari serpih, batugamping dan batupasir serta setempat batubara, batuan ini telah mengalami perlipatan kuat. Diatasnya dijumpai batuan volklanik Lamasi yang berumur Oligosen, terdiri dari aliran lava bersusunan basaltik hingga andesitik, breksi vulkanik, batupasir  dan batulanau, setempat-setempat  mengandung feldspatoid. Kebanyakan batuan terkersikkan dan terkloritisasi serta tidak dijumpai adanya fosil (Djuri dan Sudjatmiko, 1974).
Satuan batuan Tmb dan Tmpss yang beranggotakan napal dengan sisipan batugamping yang setempat-setempat mengandung batupasir gampingan, konglomerat dan breksi yang berumur Miosen Awal hingga Miosen Tengah. Satuan batuan Tmc yang terdiri dari konglomerat, meliputi sedikit batupasir             glaukonit, serpih, mengandung fosil mollusca. Ketebalan batuan ini mencapai (100-400) meter, berumur Miosen Tengah hingga Pliosen.
Baik satuan Tmb, Tmpss  dan Tmc ini mempunyai hubungan menjemari dengan satuan batuan Tmpv yang terdiri dari lava yang bersusunan andesitik, piroksenit dan andesitik trakit, kelompok satuan batuan ini berumur Miosen Awal hingga Pliosen dan mempunyai ketebalan (500-1000) meter.
Di atas satuan batuan Tmpv terendapkan secara tidak selaras satuan batuan Tmpl yang beranggotakan batugamping koral Miosen Akhir hingga Pliosen. Dibeberapa tempat juga dijumpai satuan Tmpa yang merupakan molasa Sulawesi dari Sarasin, dimana Sarasin (1981) terdiri dari konglomerat, batupasir, batulempung dan napal dengan selingan batugamping dan lignit.
            Terdapat beberapa intrusi  yang umumnya bersusunan asam sampai intermedit seperti granit, granodiorit, diorit, sienit, monzonit kuarsa dan riolit. Setempat dijumpai gabro di G. Pangi, singkapan terbesar di G. Paroreang yang menerus sampai daerah G. Gandadewata di lembar Mamuju (Djuri dan Sudjatmiko, 1974). Umurnya diduga Pliosen karena menerobos batuan gunungapi Walimbong yang berumur Mio-Pliosen, serta berdasarkan kesebandingan dengan granit di Lembar Pasangkayu yang berumur 3,35 juta tahun / Pliosen  Akhir (Sukamto, 1975).
Satuan Batuan termuda berupa endapan aluvial dan pantai yang terdiri dari lempung, lanau, pasir kerikil dan setempat-setempat terdapat terdapat terumbu koral (Qal) menempati daerah pesisir timur dan barat, daerah ini berbatasan langsung dengan laut serta daerah disekitar Danau Tempe berumur Holosen dan proses pengendapannya berlangsung sampai sekarang.

Struktur Geologi Regional

Strukutr geologi daerah Sulawesi memperlihatkan keadaan yang sangat komplek, ditinjau dari tektonik regional mengalami beberapa fase tektonik akibat dari pengaruh pergerakan (3) tiga lempeng antara lain lempeng Pasifik, Australia dan Eurasia. Pergerakan tersebut mengakibatkan terbentuknya struktur perlipatan dan pensesaran antara lain sesar mendatar mengiri Palu-Koro yang memisahkan Laut Sulawesi dan Selat Makassar dan diperkirakan masih aktif sampai sekarang dan telah bergeser sejauh 750 kilometer (Tjia dan Zakaria,1973 dalam Sukamto,1975).
Arah gerak sesar Palu-koro memperlihatkan kesamaan gerak dengan jalur sesar Matano dan jalur sesar Sorong dan pola sesar sungkupnya memperlihatkan arah sesar yang konsekwen terhadap Mandala Banggai-Sula. Hal ini memperlihatkan bahwa terdapat pemampatan mendatar yang disebabkan oleh Mandala Banggai-Sula yang bergerak ke arah barat, kemudian akibat lempeng Asia yang bergerak dari arah Baratlaut menyebabkan terbentuknya jalur penunjaman Sulawesi Utara sehingga pergerakan dari sesar Palu-Koro makin aktif (Simandjuntak, 1986).
Daerah penelitian terpetakan dalam Lembar Majene dan bagian barat palopo yang termasuk dalam Mandala Geologi Sulawesi Barat (Sukamto, 1975). Mandala ini dicirikan oleh  batuan sedimen laut dalam berumur Kapur – Paleogen yang kemudian berkembang menjadi batuan gunungapi bawah laut dan akhirnya gunungapi darat di akhir Tersier. Batuan terobosan granitan berumur Miosen – Pliosen juga mencirikan mandala ini. Sejarah tektoniknya dapat diuraikan mulai dari jaman kapur , yaitu saat  Mandala Geologi Sulawesi Timur bergerak ke  Barat mengikuti gerakan tunjaman landai ke barat di bagian timur Mandala Sulawesi Barat. Penunjaman ini berlangsung hingga hingga Miosen Tengah , saat kedua mandala tersebut bersatu pada akhir Miosen Tengah sampai Pliosen terjadi pengendapan sedimen molase  secara tak selaras di atas seluruh mandala geologi di Sulawesi, serta terjadi terobosan batuan granitan di Mandala Geologi Sulawesi Barat . Pada Plio-Pliosen seluruh daerah Sulawesi  tercenanga. Di daerah pemetaan pencenangaan ini diduga telah mengakibatkan terbentuknya lipatan dengan sumbu berarah baratlaut – tenggara, serta sesar naik dengan bidang sesar miring ke timur. Setelah itu seluruh daerah Sulawesi terangkat dan membentuk bentang alam seperti sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar