Kamis, 29 Agustus 2013

Pilih Kacamata yang Benar untuk Melihat Aku


Entah setan apa yang merasuki kamu, wahai sahabat,
Saya kira kita berdua telah menemui satu kesepakatan,
Dengan janji di bawah api unggun,
Kita berikrar tampa saksi resmi dari yang sejatinya,
Berjanji,
Tak ada yang lain diantara kamu dan aku,
Mulai detik ini sampai kapanpun itu,
Terikat dalam satu status tak mengenakan ini,
Status tanpa ujung,
Diam-diam percikan cinta itu datang,
Datang merasuki menghujam jantung ini dengan seksama,
Tak ada yang bisu,
Ketika kamu dan dia bergandeng tangan,
Ya, harusnya aku bahagia,
Tapi aku terbakar api panasnya cemburu,
Aku suka kamu, suka sekali.
Tapi kamu tak pernah lihat aku sahabat,
Mungkin aku tak secantik dia,
Tapi karena aku tak secantik dia makanya aku se-percaya diri ini sekarang,
Katanya kau suka kepercayaan diriku tapi kau tak melihatku.
Mungkin aku tak sepintar dia,
Karena itu aku belajar mati-matian supaya IPK ku lebih tinggi dari dia,
Aku berhasil,
Katanya kau suka IPK ku melonjak tajam,
Tapi lagi-lagi kau tak melihatku.
Ingatkah saat di bawah bulan di atas lantai 4 kampus,
Kau bercerita betapa bencinya dengan perempuan itu,
Tapi sekarang, aku melihatmu berjalan seirama dengannya.
Butakah kau?
Atau dia sudah merusak otakmu?
Dia itu perempuan tak baik,
Buktinya dia berani merebutmu dari aku,
Atau haruskah kubelikan kacamata yang benar?
Agar kau hanya melihat aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar