Entah
setan apa yang merasuki kamu, wahai sahabat,
Saya kira
kita berdua telah menemui satu kesepakatan,
Dengan janji
di bawah api unggun,
Kita berikrar
tampa saksi resmi dari yang sejatinya,
Berjanji,
Tak ada
yang lain diantara kamu dan aku,
Mulai detik
ini sampai kapanpun itu,
Terikat dalam
satu status tak mengenakan ini,
Status tanpa
ujung,
Diam-diam
percikan cinta itu datang,
Datang merasuki
menghujam jantung ini dengan seksama,
Tak ada
yang bisu,
Ketika kamu
dan dia bergandeng tangan,
Ya,
harusnya aku bahagia,
Tapi aku
terbakar api panasnya cemburu,
Aku suka
kamu, suka sekali.
Tapi kamu
tak pernah lihat aku sahabat,
Mungkin aku
tak secantik dia,
Tapi karena
aku tak secantik dia makanya aku se-percaya diri ini sekarang,
Katanya kau
suka kepercayaan diriku tapi kau tak melihatku.
Mungkin aku
tak sepintar dia,
Karena itu
aku belajar mati-matian supaya IPK ku lebih tinggi dari dia,
Aku berhasil,
Katanya
kau suka IPK ku melonjak tajam,
Tapi lagi-lagi
kau tak melihatku.
Ingatkah
saat di bawah bulan di atas lantai 4 kampus,
Kau
bercerita betapa bencinya dengan perempuan itu,
Tapi sekarang,
aku melihatmu berjalan seirama dengannya.
Butakah kau?
Atau dia
sudah merusak otakmu?
Dia itu
perempuan tak baik,
Buktinya
dia berani merebutmu dari aku,
Atau haruskah
kubelikan kacamata yang benar?
Agar kau
hanya melihat aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar