Kamis, 29 Agustus 2013

EMANG PERLU ALASAN UNTUK SAYANG SAMA KAMU?


 Emang perlu alasan sayang kamu? Itu yang terlintas di kepala waktu Pacar nanya alasan kenapa saya sayang sama dia. Emang kenapa sih? Apa karena Pacar kaya? Ehm.... Pacar bukan dari keluarga kaya, dia jarang kasih saya hadiah. Kalau kasih hadiah juga barangnya yang dia buat sendiri, katanya biar murah. Tapi saya suka. Saya suka Pacar dari keluarga sederhana karena Pacar selalu ngajarin saya gimana caranya sederhana dan dimana carannya bersyukur dengan apapun yang udah dikasih Tuhan sama saya.
 Apa karena dia cakep? Pacar cakep? Karena dia pacar aku, yaaa aku bilang dia cakep. Tapi jelas Pacar jauh dari kata keren. Sejak 7 tahun lalu, sejak pertama kali saya jalan dengan dia, stylenya cuma satu yaitu jeans plus sweater plus rambut yang gak pernah disisir alias selalu berantakan. Tapi kayaknya alasan saya sayang sama dia bukan karena alasan fisik deh. Karena saya janji kalau fisik Pacar berubah maka hati ini tidak akan berubah untuknya. Ciee...
 Apa karena Pacar suka traktir aku di resto mahal? Gak lah, dari awal Pacar itu bukan berasal dari keluarga kaya raya. Tapi dia sering loh, ngajak saya makan di pinggir jalan dan dapat merubahnya menjadi makanan paling enak yang aku cicipi.
 Jadi alasannya apa? Saya sayang sama Pacar karena dia adalah dia. Dia yang berusaha bahagiaan saya dengan caranya sendiri. Dia yang menjadi dirinya sendiri. Dia yang mencintaiku tanpa alasan. Dan saya tak menuntut balas. Maka, emang perlu alasan untuk sayang sama kamu, Pacar?

SELALU BERSAMA


Tolong, hapuslah air matamu karena kini saya hanya datang untukmu. Kalau dipikir-pikir memakai otak yang waras hidup memang bikin suah dan pusing. Hidup manusia itu gak jauh-jauh dari gelisah. Jika kamu resah, genggam saja tangan saya. Jika kamu gundah peluk saja tubuh ini. Jika kamu lapar, setidaknya saya masih ada uang untuk patungan untuk beli nasi bungkus. Jika kamu sakit kepala minum saja bodrex karena bodrex dapat diminum kapan saja. 
Aniway, saya akan selalu mendukungmu setiap waktu. Senang atau sedih. Walau konsuekensinya berat tapi saya yakin kalau saya terus disisi kamu, semua akan baik-baik saja. Makanya jangan marah-marah terus dong. Cerita apa yang membuat kamu marah supaya bisa dicari biduk atau induk, yah itu bisa jadi. Intinya kalau ada masalah cerita lah, sampai semua beban masalah ini hilang untuk sementara.
Cuek aja sama mereka yang benci. Emangnya mereka tahu apa soal kita, yang tahu soal diri kita ya kan cuma diri kita sendiri sama Tuhan. Gak usah diambil pusing sama mereka yang mulutnya usil, ambil saja uangnya biar pada kelimpungan gak bisa beli nasi bungkus dan bodrex kalau bahan gosipnya gak ada atau  ambil saja hatinya sapa tahu sebenarnya mereka naksir dari dulu. Atau mungkin mereka ingin seperti kita tapi mereka sadar dan sakit karena mereka gak sesempurna kita.
Langit tidak akan pernah bohong. Kalau mau hujan akan pasti ada mendung, kalau sudah hujan pasti akan berhenti walau dua tahun hujannya pasti suatu saat akan berhenti. Kenapa saya yakin? Oh, jelas itu janji hujan. Begitu juga dengan kekejaman dunia. Sejahat-jahatnya dunia pasti masih ada tersimpan kasih sayang. Jadi bernyanyi saja dengan rumput dan pohon kalau tak ada lagi yang mau menemani. Janji langit pada kehidupan adalah setiap hujan pasti ada beragam kisah baru. Entah sedih atau senag tapi semua pasti berakhir indah kalau kita percaya. Hapuslah air mata karena janjiku padamu adalah suatu saat kita akan bahagia. Datang pasti waktu untuk bahagia.
Saya dan kamu juga pasti ada jatahnya untuk bahagia. Tapi jangan lupa saya dan kamu juga mendapat jatah untuk berduka. Walau mungkin saya tak setiap hari bisa selalu menemani tapi kamu gak usah khawatir karena janji setelah hujan itu pasti ada, setelah hujan pasti ada pelangi, maka semua masalah di dunia ini akan berakhir indah. Yang kau perlukan hanya percaya padaku karena saya akan selalu mengajakmu ke dunia yang aku punya. Disana akan kusembuhkan semua lukamu, resah, sedih dan merubahnya menjadi kebahagiaan tak terbatas.

Itulah janjiku padamu :)

Pilih Kacamata yang Benar untuk Melihat Aku


Entah setan apa yang merasuki kamu, wahai sahabat,
Saya kira kita berdua telah menemui satu kesepakatan,
Dengan janji di bawah api unggun,
Kita berikrar tampa saksi resmi dari yang sejatinya,
Berjanji,
Tak ada yang lain diantara kamu dan aku,
Mulai detik ini sampai kapanpun itu,
Terikat dalam satu status tak mengenakan ini,
Status tanpa ujung,
Diam-diam percikan cinta itu datang,
Datang merasuki menghujam jantung ini dengan seksama,
Tak ada yang bisu,
Ketika kamu dan dia bergandeng tangan,
Ya, harusnya aku bahagia,
Tapi aku terbakar api panasnya cemburu,
Aku suka kamu, suka sekali.
Tapi kamu tak pernah lihat aku sahabat,
Mungkin aku tak secantik dia,
Tapi karena aku tak secantik dia makanya aku se-percaya diri ini sekarang,
Katanya kau suka kepercayaan diriku tapi kau tak melihatku.
Mungkin aku tak sepintar dia,
Karena itu aku belajar mati-matian supaya IPK ku lebih tinggi dari dia,
Aku berhasil,
Katanya kau suka IPK ku melonjak tajam,
Tapi lagi-lagi kau tak melihatku.
Ingatkah saat di bawah bulan di atas lantai 4 kampus,
Kau bercerita betapa bencinya dengan perempuan itu,
Tapi sekarang, aku melihatmu berjalan seirama dengannya.
Butakah kau?
Atau dia sudah merusak otakmu?
Dia itu perempuan tak baik,
Buktinya dia berani merebutmu dari aku,
Atau haruskah kubelikan kacamata yang benar?
Agar kau hanya melihat aku.